Berlatar Hutan Djawatan dengan pepohonan besar yang rindang, semakin membuat setiap busana yang ditampilkan pada fashion show tampil eksotis. BBF kali ini, juga dimeriahkan dengan penampilan “Fashion in the Forest” oleh para lurah dan kepala desa se Banyuwangi yang memamerkan busana batik rancangan masing-masing.
Ketua Asosiasi Pengrajin dan Pengusaha Batik Banyuwangi Sekar Jagad Blambangan, Dedy Wahyu Hernanda, mengatakan perpaduan motif “Jenon” dan “Jaranan Buto” ini memiliki filosofi tersendiri. Dimana bentuk ketupat dari Motif Jenon bermakna kesadaran manusia untuk senantiasa memohon ampun atas semua lepat/kekhilafan.
“sementara Jaranan Buto mewakili berbagai sifat buruk yang membuat kekhilafan terjadi. Kekayaan filosofi itu dituangkan dalam desain busana yang memantik kreatifitas dari para desainer,” terang Dedy.
Dedy menambahkan, saat ini Banyuwangi memiliki 44 motif batik yang terus dikembangkan oleh para pengrajin batik lokal. Selain Jenon, diantaranya ada Gajah Oling, Kangkung Setingkes, Blarak Sempal, Gedekan, Sembruk Cacing, Kopi Pecah yang telah diangkat sebagai tema BBF pada tahun-tahun sebelumnya.
“Seiring dengan pasar yang lebih luas, pengrajin batik saat ini mulai mengeksplorasi motif-motif baru dari kearifan lokal daerah. Misalnya motif yang terinspirasi dari Ijen Geopark, Hutan Alas Purwo dan lain sebagainya. Kami sedang menginventarisir untuk diterbitkan HKI nya,” ujar Dedy.